PROLOGUE
Hujan, menggiring langkah ku membantai nya sampai habis. Tak memberi izin setetes air menerpa pundak ku. Lejar. Seperti itu keadaan ku yang sekarang mengusik fikiran ku tanpa henti. Aku mengakhiri langkah panjang ku tepat di depan halte Bus. Hujan yang begitu berani membasahi langit kini semakin memendung. Perhatian ku kini jatuh ke arah jalanan yang semakin padat tiap detik nya. Netra ku tiba-tiba memanas diikuti wajah yang mematung. Satu bus berhenti tepat di hadapan ku. Namun aku masih terdiam, tak berkutik. Tubuh ku meremang bukan main. Aku hanya terdiam. "Apa lagi yang kau inginkan semesta?" Air transparan itu merebak bebas, hati ku tersayat menjadi-jadi. Mencekal satu wajah di sebrang sana. Rona jingga memancari senyum mungil nya. Poros rindu seakan mengamuk. Apa ini? Kau berikrar di depan netra ku kala itu. Apa itu dusta? Mengapa langkah mu semakin dekat ke arah ku. Rapuh kaki ini untuk menampung tubuh yang lunglai bak di terp...